Senin, 17 Oktober 2011

Pelayanan Kreatif, Menjawab Tantangan Gereja Indonesia Masa Kini

Mianto Nugroho Agung

Tantangan Gereja di Indonesia Masa Kini

Jika harus membagi, tantangan gereja di Indonesia masa kini adalah yang berasal/bersifat internal dan eksternal. 
1. Secara internal, gereja dihadapkan kepada persoalan pokok seperti 
  • a) organisasi pemerintahan gereja yang rentan konflik, 
  • b) manajemen pelayanan gereja yang tidak/kurang 'profesional', 
  • c) sistem kaderisasi yang lemah, 
  • d) konsolidasi yang tidak/kurang  intensif, 
  • f) bergesernya motif keberagamaan jemaat pada umumnya, dan 
  • g) tafsir yang tidak kontekstual dan implemetasi firman Tuhan yang tidak efektif. 
2. Secara eksternal gereja di Indonesia dihadapkan pada persoalan pokok seperti 
  • a) ketidakjelasan produk hukum formal negara dalam kehidupan beragama, 
  • b) pola relasional antargereja yang cenderung kontraproduktif, 
  • c) lack of education rata-rata pemeluk agama di Indonesia, 
  • d) ketidakhadiran negara dalam problem kehidupan agama-agama di Indonesia, 
  • e) paradoks 'sumbu pendek' massa dan hebatnya strategi provokasi dan terror fundamentalis, 
  • f) berkurangnya wibawa agama-agama di dunia.

Pelayanan Kreatif

Pelayanan Kreatif merupakan alternatif solusi yang mengandaikan dua hal, yaitu: a) asset internal gereja cukup memadai untuk didayagunakan guna mengatasi berbagai tantangan tersebut dan b) asset eksternal nyata-nyata tidak signifikan lagi didayagunakan meski telah dilakukan penyesuaian, rekayasa, dan pengembangan untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut. Secara historis, gereja pernah menyandarkan diri pada asset eksternal namun ternyata tidak cukup membantu mengatasi tantangan. Misalnya, ketika gereja menjadi agama negara, ketika teologi mengsubordinasi filsafat, ketika gereja sangat mengandalkan anasir eksternal (partai, perusahaan, orang kaya, dll.). Meski asset eksternal tidak harus ditinggalkan sepenuhnya, namun menggantungkan diri kepadanya akan sangat riskan. Relasi yang terlalu akrab dengan asset eksternal akan rawan mengundang tuduhan miring terhadap gereja. Berbeda jika usaha menjawab tantangan itu dilakuakn dengan eksplorasi, reaktulaisasi, dan empowering asset internal. Saat tujuan tercapai pasti tidak akan mengundang penilaian-penilaian sumir. 
Mengacu pengertian 'pelayanan' dan 'kratif/kreatifitas', Pelayanan Kreatif dimaksudkan sebagai "usaha memberikan bantuan untuk mereka yang kurang mampu atau tidak mampu dengancara-cara yang kurang bahkan tidak tradisional/konvensional". Misalnya, jika dahulu kotbah selalu monolog, kini harus interaktif, jika dulu tugas misi selalu dibebankan kepada misionaris (rohaniwan) kini harus menjadi tanggung jawab bersama warga gereja, jika dulu pendetasentris dalam kehidupan jemaat kini harus berubah, jika dulu gereja sekadra sebagai pusat aktivitas kerohanian Kristen kini harus menjadi pusat-pusat kerohanian plus-plus, dan lain-lain.
Gereja-gereja harus duduk bersama mendiskusikan dan memutuskan untuk menerapkan Pelayanan Kreatif dalam kehidupan mereka secara bersama-sama dan serentak. Ibarat membasmi wereng, jika tidak serentak maka wereng hanya berpindah-pindah tempat saja. Problem  gereja di Indonesia masa kini dan ke depan sangat kompleks, berat, dan tak terduga. Dibutuhkan konsolidasi stake holder-nya agar kinerja mereka menguat dan membaik tidak saja secara rohani namun juga secara lainnya.
Pelayanan Kreatif menuntut dan mengharuskan terjadinya perubahan mental, sikap, dan perilaku serta tradisi yang kontraproduktif. Artinya, atribut gereja yang memberati laju transformasi gereja harus berubah/diubah. Gereja yang menganggap Sekolah Minggu adalah pelayanan sampingan, rasio rohaniwan dan jemaat awam rendah, mekanisme akuntabilitas dan responsibilitas tertutup, mengabdi pada liturgi dan doktrin apalagi mitos secara buta, dan lain-lain adalah gereja-gereja yang tertutup bagi implementasi Pelayanan Kreatif. Gereja-geraja demikian harus menjalani transformasi (kurang lebih lahir barulah) agar tidak terkungkung oleh anggapan kemapanannya sendiri, membuang kaca mata kudanya, menguak tempurung persembunyiannya, baru kemudian menginderai hal-hal baru yang telah menjadi setting hidupnya. Gereja harus senantias segar agar cukup energi menjalani kehidupannya secara baru dan pelayana kreatif mendapatkan tempat yang sesuai.

Nah, pertanyaan untuk kita pecahkan segera adalah: 
  1. Apa saja bentuk-bentuk (contoh-contoh) konkret yang bisa kita identifikasi dari masing-masing tantangan internal dan eksternal di atas?
  2. Bagaimana cara melakukan perubahan mental, sikap, dan perilaku serta tradisi gereja yang kontraproduktif bagi implementasi Pelayanan Kreatif?
  3. Bagaimana cara mentransformasi gereja. agar tidak terkungkung oleh anggapan kemapanannya sendiri dan melalui transformasi itu bisa menghasilkan gereja yang membuang kaca mata kudanya, menguak tempurung persembunyiannya, baru kemudian menginderai hal-hal baru yang telah menjadi setting hidupnya?
  4. Akhirnya, untuk menunjukkan keseriusan kita, buatlah 'PROPOSAL PELAYANAN KREATIF' yang sangat mungkin dijalankan di gereja Anda.

Kamis, 06 Oktober 2011

DICARI, PETUGAS PENYULUH PERPONSELAN INDONESIA (P3I)

Mianto Nugroho Agung

Dari segi kecepatan pemerataan teknologi, bisa dipastikan jika kepemilikan HP alias ponsel menempati urutan pertama. Sepuluh tahun lalu HP masih merupakan barang mewah yang tidak sembarang orang bisa memilikinya. Kini siapapun bisa memiliki bahkan lebih dari satu. Tak ayal jika bisnis ikutan di sekitar bisnis HP ini ikut memuncak. Bisnis cover HP, akesosris  HP, Pulsa, Nomor cantik, RBT, dan lain-lain marak dalam kecepatan yang luar biasa. Sekarang orang benar-benar memasuki era borderless society sepertiyang pernah dipikirkan Kenichi Ohmae. Orang-orang dengan mudah terhubung satu sama lain, jarak diperpendek, komunikasi dipermudah. Sayang sekali situasi itu juga mengundang anak-cucu ular yang mencari untung dengan jalan buruk. Banyak pihak yang mengeluh dan mengadukan akalau dirinya jadi korban penipuan dari drakula pulsa. Hal itu karena kenudahan pemilikan HP tidak dibarengi model, metode, dan mekanisme hukum yang menguntungkan konsumen HP. Kalau bertanya mengenai HP-mereka, mereka hanya mengarahkan diri ke pihak yang diragukan kapasitasnya. Nah, agar pemili HP memahami, barang kali perlu dirormasikan jenis pekerjaan baru yaitu 'Petugas Penyuluh Perponselan Nasional'. Petugas ini harus mampu menyadarkan rakyat akan arti promo perusahaan konten yang selama ini bergentayangan. Bandingakn dengan adanya PPL (penyuluh Pertanian Lapangan), Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), dll. Ayooo ... .

SEGERA, KOMNAS KONTEN NAKAL (DRAKULA PULSA)

Mianto Nugroho Agung

Setelah digempur pialang lombok, penggoreng harga sembako, dan bandar transport mudik-balik lebaran,  serta rentetan kecelakaan transportasi, kini NKRI diguncang drakula pulsa! Sepanjang pertengahan 2011 ini banyak pemilik HP yang pusing tujuh keliling akibat pulsa mereka tersedot perusahaan konten. Iming-imingnya beasiswa RP 2,5 juta per minggu, pulsa gratis Rp. 50 ribu, up date informasi mengenai konten yang ditawarkan, sampai kibulan kecelakaan sanak keluarga. Kalau sudah terjebak dengan cara menjawab kelakar, mengumpat, bahkan marah, pasti dijamin sulit unreg alias membatalkan diri. Di akhir September, dibentuk pos-pos pengaduan korban drakula pulsa ini nun di Jakarta sana dan langsung kebanjiran pengadu. Diperkirakan dana yang disedot si drakula itu mencapai Rp. 100 milyar sebulan! Fantastis. Dibanding dana yang dikorupsi oleh koruptor yang sedang diurus KPK, penanganan dana pulsa ini sungguh harus diprioritaskan oleh pemerintah. BTW, memang mendesak dilakukan upaya penanggulangan agar ekonomi rakyat berdaya beli pulsa Rp. 10 ribu tidak semakin ambruk. Apa perlu dibentuk Komnas Konten Nakal , ya ...

Rabu, 05 Oktober 2011

LOWONGAN KERJA YANG SULIT DITEMBUS: ANEH TAPI NYATA

Hampir setiap Sabtu saya memerhatikan betapa banyaknya lowongan yang diiklankan di media massa nasional. Bahkan kadang sampai delapan halaman penuh yang terdiri dari ribuan posisi baru yang 'lowong' dan ditawarkan untuk diisi. Saya juga menyaksikan betapa acara-acara job fair yang diselenggarakan dengan tiket masuk mahal apa lagi yang gratis selalu dipenuhi pelamar kerja dan tentu saja pencari pekerja. Dan, kita ketahui pula bukan betapa banyak orang yang masih menganggur (dalam arti tidak bekerja penuh dan berpenghasilan).?Pertanyaan saya, apakah yang salah? Apakah di pencari kerjanya yang dianggap terlalu buruk. Atau, di pencari kerjanya yang narsis dan kauvinis? Masak ada lowongan dan ada yang bisa dimasukkan tetapi malah keduanya tidak pernah bisa cocok? Ane ajalah.

ILMUWAN MUDA INDONESIA BUTUH TALENT SCOUT!

Fakta bahwa banyak anak muda Indonesia yang mampu menunjukkan prestasi di dunia ilmiah melalui LKIR mennganduk makna bahwa potensi SDM Indonesia sangat besar bahkan telah menjadi kenyataan. Di sisi lain, ada dua fakta yang memrihatinkan, pertama, pembajakan produk karya ilmiah ilmuwan muda Indonesia itu. Dan, kedua, fakta bahwa pemerintah tidak atau kurang menghargai karya merek melalui lembaga formalnya atau minimal menguruskan hak patennya sebagai penghargaan terhadap HAKI. Artinya, saat ini dibutuhkan lembaga talent scout yang peduli terhadap semua karya ilmuwan muda Indonesia agar bisa didapat iklim berkreasi yang sehat dan terjamin hukumnya.

MATERIAL BEKAS PT FREEPORT UNTUK SDN AMAMAPARE

Mianto Nugroho Agung

Saya bukanlah pemerhati PT Freeport Indonesia sampai hari ini Kompas (6/10, 2011) memberitakan SDN Amampare yang terpaksa memanfaatkan papan material sisa PTFI untuk menyelenggarakan PBM formal mereka. Kalau mau menyalahkan, tentu semua bersalah karena abai terhadap anak bangsa sendiri. Namun, mengapa sebagai penambang raksasa PTFI tidak mengetahui fakta ini. Selamatkan SDN Amamapare atau bakal kita saksikan anak bangsa yang memungut material lainnya dari perusahaan transnasional yang mengeruk kekayaan bangsa kita.

Minggu, 02 Oktober 2011

UANG KECIL UANG BESAR

Mianto Nugroho Agung

Dalam sebuah kesempatan saya mendapatkan 'kuliah' gratis dari seorang teman yang sedang menjalankan usahanya dan melakukan ekspansi atau ya .. diversifikasi usaha. Tema kuliah itu menyangkut basis ideologis seorang wirausaha. Katanya, dan heran, langsung dibenarkan teman-teman lain yang saat itu ada di situ, sukses seseorang itu bisa diketahui dari orientasi dan tujuan usaha yang digeluti. Mereka yang mengejar uang kecil (receh) pastilah orang yang tidak akan pernah sukses. Sebaliknya, kali ini dengan lebih semangat, mereka yang berorientasi pada uang besar, pastilah bakal meraih kesusksesan. Benarkah demikian? Meski tidak spontan saya kemukakan dalam forum itu, saya memiliki beberapa pandangan pembanding alias second opinion. 
  1. Pertama, iman yang mengharusan 'barang siapa setia pada perkara kecil akan diberikan (tanggung jawab dan hadiah) perkara besar'. Firman yang telah berusia ribuan tahun ini tentu sangat berpihak pada proses dan fakta bahwa manusia yang bersifat pembelajar seumur hidup akan mencapai top performance-nya pada waktu yang tepat, tetapi tidak serta merta. Soal makanan, sesuai usia fisiknya, bayi tidak bisa diberi nasi goreng. Soal beban latihan, pelari tidak bisa langsung berlari kencang tanpa berlatih sedikit demi sedikit dan pemanasan sebelum berlari dan memenangi perlombaan. Soal belajar formal, anak-anak SD tidak bisa langsung diminta menuliskan resensi buku Si Kancil sebelum bisa membaca abjad. Dst. ... Manusiawi bukan?
  2. Kedua, filososfi berwirausaha China 'bukan soal ming tapi berapa ping". Alias, bukan soal 'hanya' uang kecil' tetapi berapa kali ada uang receh. Pengusaha pulsa dan segala ikutannya, misalnya, rela beriklan ratusan juta rupiah di TV meski hanya menjual dagangan sebesar Rp. 50 dengan margin -mungkin- Rp. 5. Mereka tidak berhenti pada Rp. 50 tentunya, tetapi berapa kali Rp. 50 itu.
  3. Ketiga, sukses selalu memerlukan fondasi berupa pasir, kerikil, dan batu belah yang dicampur air dan semen. Artinya, sinergi dan sinergi. Si Kecil adalah bagian tak terpisahkan dari Si Besar. Artinya lagi, yang hanya berorientasi pada salah satu pasti akan ambruk suatu saat. Bersinergilah.
  4. Keempat, small is beautiful.
  5. Kelima, kecil-kecil cabe rawit
Agak meloncat, setelah hampir dua tahun saya perhatikan, benar juga, meski berhasil mengembangkan usaha, namun karena matanya hanya tertuju yang-besar, maka banyak yang-kecil yang terinjak-injak. Bahkan untuk sekadar melakukan hal kecil, yaitu menepati janjinya, teman tadi sangat sulit. Akhirnya, setelah saya perhatikan lagi,  banyak pihak yang dilukai. Ia memang berhasil, menurut sudut pandangnya, tetapi dengan korban yang bertumbangan dan korban-korban itu mengingat jelas siapa penyebabnya. Apakah ini namanya sukses? Banyak contoh orang yang berhasil menangkap uang besar namun dengan banyak korban, bukan? Gayus dapat uang besar, Nazaruddin dapat uang besar, Tanzil dapat uang besar, tahu siapa korbannya selain keluarga dekat dan keluarga besarnya? Nah, apakah kita akan menjadi kandidat teman mereka?