Mianto Nugroho Agung
Tantangan Gereja di Indonesia Masa Kini
Jika harus membagi, tantangan gereja di Indonesia masa kini adalah yang berasal/bersifat internal dan eksternal.
1. Secara internal, gereja dihadapkan kepada persoalan pokok seperti - a) organisasi pemerintahan gereja yang rentan konflik,
- b) manajemen pelayanan gereja yang tidak/kurang 'profesional',
- c) sistem kaderisasi yang lemah,
- d) konsolidasi yang tidak/kurang intensif,
- f) bergesernya motif keberagamaan jemaat pada umumnya, dan
- g) tafsir yang tidak kontekstual dan implemetasi firman Tuhan yang tidak efektif.
- a) ketidakjelasan produk hukum formal negara dalam kehidupan beragama,
- b) pola relasional antargereja yang cenderung kontraproduktif,
- c) lack of education rata-rata pemeluk agama di Indonesia,
- d) ketidakhadiran negara dalam problem kehidupan agama-agama di Indonesia,
- e) paradoks 'sumbu pendek' massa dan hebatnya strategi provokasi dan terror fundamentalis,
- f) berkurangnya wibawa agama-agama di dunia.
Pelayanan Kreatif
Pelayanan Kreatif merupakan alternatif solusi yang mengandaikan dua hal, yaitu: a) asset internal gereja cukup memadai untuk didayagunakan guna mengatasi berbagai tantangan tersebut dan b) asset eksternal nyata-nyata tidak signifikan lagi didayagunakan meski telah dilakukan penyesuaian, rekayasa, dan pengembangan untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut. Secara historis, gereja pernah menyandarkan diri pada asset eksternal namun ternyata tidak cukup membantu mengatasi tantangan. Misalnya, ketika gereja menjadi agama negara, ketika teologi mengsubordinasi filsafat, ketika gereja sangat mengandalkan anasir eksternal (partai, perusahaan, orang kaya, dll.). Meski asset eksternal tidak harus ditinggalkan sepenuhnya, namun menggantungkan diri kepadanya akan sangat riskan. Relasi yang terlalu akrab dengan asset eksternal akan rawan mengundang tuduhan miring terhadap gereja. Berbeda jika usaha menjawab tantangan itu dilakuakn dengan eksplorasi, reaktulaisasi, dan empowering asset internal. Saat tujuan tercapai pasti tidak akan mengundang penilaian-penilaian sumir.
Mengacu pengertian 'pelayanan' dan 'kratif/kreatifitas', Pelayanan Kreatif dimaksudkan sebagai "usaha memberikan bantuan untuk mereka yang kurang mampu atau tidak mampu dengancara-cara yang kurang bahkan tidak tradisional/konvensional". Misalnya, jika dahulu kotbah selalu monolog, kini harus interaktif, jika dulu tugas misi selalu dibebankan kepada misionaris (rohaniwan) kini harus menjadi tanggung jawab bersama warga gereja, jika dulu pendetasentris dalam kehidupan jemaat kini harus berubah, jika dulu gereja sekadra sebagai pusat aktivitas kerohanian Kristen kini harus menjadi pusat-pusat kerohanian plus-plus, dan lain-lain.
Gereja-gereja harus duduk bersama mendiskusikan dan memutuskan untuk menerapkan Pelayanan Kreatif dalam kehidupan mereka secara bersama-sama dan serentak. Ibarat membasmi wereng, jika tidak serentak maka wereng hanya berpindah-pindah tempat saja. Problem gereja di Indonesia masa kini dan ke depan sangat kompleks, berat, dan tak terduga. Dibutuhkan konsolidasi stake holder-nya agar kinerja mereka menguat dan membaik tidak saja secara rohani namun juga secara lainnya.
Pelayanan Kreatif menuntut dan mengharuskan terjadinya perubahan mental, sikap, dan perilaku serta tradisi yang kontraproduktif. Artinya, atribut gereja yang memberati laju transformasi gereja harus berubah/diubah. Gereja yang menganggap Sekolah Minggu adalah pelayanan sampingan, rasio rohaniwan dan jemaat awam rendah, mekanisme akuntabilitas dan responsibilitas tertutup, mengabdi pada liturgi dan doktrin apalagi mitos secara buta, dan lain-lain adalah gereja-gereja yang tertutup bagi implementasi Pelayanan Kreatif. Gereja-geraja demikian harus menjalani transformasi (kurang lebih lahir barulah) agar tidak terkungkung oleh anggapan kemapanannya sendiri, membuang kaca mata kudanya, menguak tempurung persembunyiannya, baru kemudian menginderai hal-hal baru yang telah menjadi setting hidupnya. Gereja harus senantias segar agar cukup energi menjalani kehidupannya secara baru dan pelayana kreatif mendapatkan tempat yang sesuai.
Nah, pertanyaan untuk kita pecahkan segera adalah:
- Apa saja bentuk-bentuk (contoh-contoh) konkret yang bisa kita identifikasi dari masing-masing tantangan internal dan eksternal di atas?
- Bagaimana cara melakukan perubahan mental, sikap, dan perilaku serta tradisi gereja yang kontraproduktif bagi implementasi Pelayanan Kreatif?
- Bagaimana cara mentransformasi gereja. agar tidak terkungkung oleh anggapan kemapanannya sendiri dan melalui transformasi itu bisa menghasilkan gereja yang membuang kaca mata kudanya, menguak tempurung persembunyiannya, baru kemudian menginderai hal-hal baru yang telah menjadi setting hidupnya?
- Akhirnya, untuk menunjukkan keseriusan kita, buatlah 'PROPOSAL PELAYANAN KREATIF' yang sangat mungkin dijalankan di gereja Anda.